Prospek Suram Saham Batubara

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Jika kita perhatikan, harga saham batubara sudah berjatuhan. Sejak tahun 2011, harga saham batubara turun terus. Hal ini tidak hanya dialami pasar saham Indonesia, tapi semua negara penghasil batubara. Sekarang bagaimana prospek saham batubara selanjutnya? Masih bisakah naik? Simak jawabannya di sini

Prospek Suram Saham Batubara

Perhatikan grafik US Coal Index, yang berisi saham perusahaan penghasil batubara. Mencapai puncaknya di tahun 2008, waktu boom harga komoditas. Pada waktu itu harga batubara mencapai 200 USD per ton. Kemudian sempat naik di tahun 2011, tapi kemudian turun terus. Di AS, empat perusahaan batubara kehilangan lebih dari 90% dari kapitalisasi pasar mereka pada tahun 2015.

US Coal Index 2000-2015

Di pasar saham lokal juga sama, harga saham emiten batubara juga rontok. ITMG tertinggi di 2011 Rp 59.750 di tahun 2015 tinggal Rp 6.600. PTBA di periode yang sama dari Rp 26.000 tinggal Rp 5.200. ADRO dalam periode yang sama harga sahamnya dari Rp 2900 menjadi Rp 535. Atau yang paling ciamik BUMI di tahun 2011 harganya masih Rp 3650, di tahun 2015 tinggal Rp 50

Memang harga komoditas lain juga turun. Tapi penurunan saham batubara lebih parah. Harga batubara terjun 77% sejak 2008 dan 63% sejak 2011. Sementara harga minyak turun 69% dan 60% sejak tahun yang sama.

Kemungkinan harga batubara masih tertekan dalam beberapa tahun mendatang. Goldman menetapkan proyeksi untuk batubara termal Australia di $ 54 per ton untuk 2016, $ 52 untuk 2017, dan $ 51 untuk 2018.

Mengapa harga saham batubara terus melemah? Ada beberapa sebab, antara lain:

  • Melemahnya harga komoditas terutama minyak mentah.
  • Kompetisi dengan gas alam yang murah mengikis pangsa pasar batubara.
  • Berpindahnya konsumen pada energi yang lebih bersih. Dari bahan bakar fosil, batu bara dianggap paling kotor. Pembakaran batu bara memberikan kontribusi 90% dari seluruh emisi dari pembakaran bahan bakar di Cina, Amerika Serikat, Uni Eropa dan India. Meskipun masih menyumbang 35% dari pembangkit energi global, pangsa pasar batubara telah turun 9% sejak 2009, menurut Goldman Sachs. Penurunan lebih lanjut, menjadi sekitar 33 persen pangsa pasar, diperkirakan terjadi pada akhir 2018. Hal ini disebabkan banyak pembangkit listrik tenaga batubara yang dipensiunkan karena pengetatan peraturan emisi.
  • Pangsa pasar China menyusut. China adalah pengkonsumsi sekitar setengah dari permintaan batu bara dunia. Sayangnya ekonomi China mulai melambat dan ekonomi terbesar kedua di dunia itu berusaha untuk pindah ke energi bersih terbarukan lain. Sehingga permintaan batubara dari China makin susut.

Saat ini konsumen terbesar batubara adalah China dan India. China sudah mengurangi permintaan batubara. Jadi tinggal berharap pada India yang 70% listriknya dipenuhi dari batubara. Tapi mungkin tidak mampu menggantikan turunnya pangsa pasar batubara China. Sesuai hukum klasik supply dan demand, supply batubara meningkat tapi tidak dibarengi naiknya permintaan, hasilnya adalah prospek suram batubara di masa depan. Industri batubara lokal kemungkinan juga terkena dampaknya, karena ekspor batubara Indonesia paling besar saat ini adalah ke India dan China.

KESIMPULAN
Disarankan hindari saham batubara untuk sementara ini. Prospek saham batubara kemungkinan masih suram dalam beberapa tahun mendatang. Saran ini bersifat umum ya, dan dalam konteks jangka menengah panjang. Kalau buat trading jangka pendek ya mungkin masih bisa kalau harga minyak naik lagi.

oleh:
Desmond Wira
http://www.juruscuan.com