Saham Perbankan Dan Pembatasan NIM

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Pada hari Jumat 19 Februari 2016 investor saham dikejutkan dengan penurunan tajam IHSG hingga ditutup -1,69% di 4697. Penurunan ini dipicu anjloknya harga saham perbankan. Saham BBRI turun -4,58% BMRI -4,37% BBCA -2,61% BBNI -6,42% . Ditengarai penurunan saham perbankan setelah adanya pernyataan rencana pembatasan margin pendapatan bunga bersih (Net Interest Margin) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Apa sebenarnya Net Interest Margin atau NIM itu? Apa dampak rencana pembatasan atau penurunan NIM? Bagaimana prospek saham perbankan selanjutnya?

Saham Perbankan Dan Pembatasan NIM

APA ITU NET INTEREST MARGIN (NIM)?
Net Interest Margin (NIM) atau Marjin Pendapatan Bunga Bersih adalah perbandingan antara pendapatan bunga bersih dengan nilai aset yang disalurkan sebagai kredit. Pada prinsipnya semakin besar nilai NIM, maka bank tersebut semakin baik. NIM menunjukkan tingkat profitabilitas suatu bank. Bank dengan angka NIM yang lebih besar berarti lebih efisien menggunakan asetnya untuk menghasilkan keuntungan. (Dikutip dari buku Analisis Fundamental Saham Edisi Kedua)

Industri Perbankan di Indonesia memang merupakan industri yang paling menguntungkan bila dibandingkan dengan industri perbankan negara-negara lainnya. Industri Perbankan di Indonesia memiliki nilai return lebih besar 2 kali lipat dibanding dengan perbankan di Amerika Serikat. Rata-rata Return On Equity (ROE) perbankan Indonesia adalah sebesar 18%-25%. Sedangkan ROE perusahaan perbankan di Amerika Serikat cuma 9%. Besarnya keuntungan perbankan Indonesia ini didorong oleh faktor besarnya Net Interest Margin (NIM).

Angka NIM perbankan Indonesia memang lebih besar dibandingkan dengan negara ASEAN lainya, yaitu di tahun 2015 sebesar 4%-5%. Angka NIM perbankan Indonesia sebenarnya telah mengalami penurunan, di tahun 2011-2013 yang kisarannya sekitar 6%. Namun tetap lebih besar bila dibandingkan dengan negara ASEAN lain. NIM perbankan Filipina hanya mencapai 3,3 persen,Thailand 2,6 persen, Malaysia 2,3 persen dan Singapura 1,5 persen.

OJK berencana menurunkan nilai NIM menjadi kisaran 3%-4% (kemungkinan masih wacana).

APA DAMPAK PEMBATASAN NIM?
Tingginya NIM ini memang berdampak positif pada laba bank, tapi sebaliknya membebani perusahaan yang berutang pada bank. Artinya biaya utang perusahaan yang mengambil utang di dalam negeri menjadi besar. Karena itu banyak perusahaan mencari alternatif pendanaan dari luar negeri yang bunganya jauh lebih kecil. Tapi ada risikonya yaitu kurs rupiah, Kalau rupiah melemah maka beban perusahaan untuk membayar utang luar negeri akan meningkat. Hal ini mengakibatkan terjadinya ekonomi biaya tinggi.

Dengan membatasi NIM, dalam jangka pendek memang laba bank berpotensi menurun. Tapi sebenarnya penurunan NIM akan berdampak lebih baik dalam jangka panjang.

  • Yang pertama adalah ekonomi Indonesia akan diuntungkan, karena bisa mendapatkan dana dengan biaya lebih murah. Ujung-ujungnya pada ekspansi perusahaan.
  • Yang kedua, bank akan berpotensi memiliki pangsa pasar lebih besar, karena bisa menyalurkan dana yang memiliki biaya lebih murah. Perusahaan yang sebelumnya mencari dana murah di luar negeri berpotensi berpaling pada bank lokal.

Selama ini memang perbankan Indonesia dininabobokkan dengan kemudahan mendapatkan laba dengan NIM yang besar. Menurut saya, langkah OJK sudah tepat. Sudah saatnya bank Indonesia bekerja lebih efisien, dan menyalurkan dana lebih banyak untuk pembangunan Indonesia.

 

BAGAIMANA PROSPEK SAHAM PERBANKAN INDONESIA KE DEPAN?
Saya pribadi tidak terlalu risau dengan prospek perbankan Indonesia ke depan (dalam konteks jangka panjang ya) . Dengan penurunan NIM, asal bank lebih efisien bekerja akan bisa memperoleh pangsa pasar lebih besar. BI juga sudah menurunkan suku bunga dan Giro Wajib Minimum, hal ini memberikan sentimen positif bagi bank untuk lebih berani dan lebih banyak menyalurkan kredit. Kalau dulu bank menyalurkan kredit sedikit dengan bunga besar, sekarang bunga kecil tapi jumlah kredit lebih banyak. Lha, ujung-ujungnya sama saja tho? Selain itu masih ada sumber pendapatan lain yang bisa digali oleh bank seperti Fee Based Income. Masih banyak juga potensi bisnis lain yang bisa dilakukan bank.

Seperti penjelasan di atas, angka NIM Indonesia telah mengalami penurunan sepanjang 2011 sampai 2015. Perhatikan nilai aset dan laba bank sepanjang periode tersebut, tetap besar kan? Jadi nilai NIM turun sebenarnya bukan hal baru bagi perbankan Indonesia.

So, santai saja dengan rencana OJK melakukan pembatasan NIM. Mau nggak Indonesia menjadi negara maju yang lebih efisien?

oleh:
Desmond Wira
http://www.juruscuan.com