Fenomena Pompom Saham Ala Short Squeeze

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Di AS ramai membicarakan saham GameStop yang dipompom forum trader WallstreetBets. Trader ritel rame-rame beli. Harga saham naik dari awal 2021 cuma $17-an menjadi $480 hanya dalam waktu singkat. Melvin Capital, hedge fund yang sedang ngeshort saham tersebut karena dianggap mau bangkrut, menjadi rugi 13 miliar dollar. Akhirnya Melvin Capital menyatakan bangkrut. Fenomena ini dinamakan Short Squeeze. Pompom berlanjut ke saham lain spt AMC, KOSS, NOK dll. Di Indonesia pun ada yang menyerukan trader ritel untuk mencontoh kasus GameStop untuk bersatu menaikkan harga saham. Apakah pompom saham ala Short Squeeze bisa dilakukan di Indonesia?

Fenomena Pompom Saham Ala Short Squeeze

Definisi Short Squeeze
Short squeeze diartikan sebagai kejadian saham yang harganya naik tajam karena faktor teknikal saja, tidak ada pengaruh faktor fundamental, dan kenaikan harga dipertajam karena ada pihak yang sedang melakukan short terpaksa cover short (membeli saham di harga lebih tinggi lagi).

Sederhananya pompom ala Short Squeeze seperti ini: saham yang sedang ada yang ngeshort, kita beli sahamnya rame-rame, sampe pihak yang short tersebut menyerah

 

Mengapa Short Squeeze di GameStop Sukses?

  1. Anggota forum trader WallstreetBets 3 jutaan, banyak pasukannya (mereka ini menjadi Retail Army). Ramai-ramai membentuk Herding behavior.
  2. Greater Fools Theory. Harga makin naik karena makin banyak "orang goblok" yang mau dikomporin beli di harga makin tinggi
  3. Ada hedge fund Melvin Capital yang short, artinya kalau rugi terpaksa harus close posisi. Dia harus cover short, beli saham di harga yang makin tinggi, yang artinya makin menaikkan harga saham
  4. Bandwagon Effect. Melihat fenomena ini sukses, lebih banyak lagi yg mau ikut

 

Apa target saham Short Squeeze?
Tidak semua saham bisa dilakukan Short Squeeze. Saham target ini dinamakan "meme stocks" atau "emoji stocks". Kelihatannya karena sering dikomporin menggunakan emoji-emoji di sosial media. Karakteristik sahamnya antara lain:

  1. Saham yang free float nya besar (porsi saham publik / ritel besar)
  2. Sedang ada yang ngeshort
  3. Kapitalisasi pasar kecil

 

Short squeeze dianggap kesuksesan trader ritel melawan trader institusi. Banyak yang membandingkan sebagai The poor vs The rich, David vs Goliath. Di Indonesia ada yang menyamakan antara trader ritel melawan Bandar. Lalu ada yang menyerukan trader ritel Indonesia untuk mencontoh fenomena GameStop guna bersatu menaikkan IHSG.

Apakah Short squeeze bisa diterapkan di Indonesia?
Kemungkinan besar tidak bisa. Kondisi di Indonesia dan AS berbeda.

  1. Susah memobilisasi trader Indonesia. Mungkin ada yg mau memulai?
  2. Jumlah trader ritel indonesia cuma 4 jutaan. Secara kuantitas dan kualitas dompet masih mini. Belum tentu bisa kompak
  3. Pasar saham Indonesia tidak ada short selling.

Jadi kalau ada yang menyerukan trader ritel Indonesia untuk mencontoh kasus GameStop, anggap saja angin lalu.

 

Btw bagaimana ending Short Squeeze?
Seperti fenomena bubble lainnya, pada akhirnya akan meletus. Setelah mencapai level $480 akhirnya saham GameStop anjlok menjadi $193. Itu korbannya banyak. Tidak cuma hedge fund, tapi juga trader ritel sendiri. Awalnya trader ritel bisa kompak beli dan tidak mau jual, tapi akhirnya kalau sudah urusan duit, akan cari untung sendiri-sendiri dan cari selamat sendiri-sendiri (greed dan fear). Sama seperti skema ponzi, saat meletus yang ikut paling belakangan adalah yang paling menderita. Yang paling untung adalah juru pompomnya karena paling awal mulai dan paling optimal timing keluarnya.

Semoga artikel ini menginspirasi

oleh
Desmond Wira
http://www.juruscuan.com