Pola Pikir Karyawan Yang Merusak Trading

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Sebelum menjadi trader, apakah Anda seorang karyawan? Saya yakin, banyak dari trader saham, forex, atau emas yang sebelumnya adalah seorang karyawan. Bahkan ada yang telah bertahun-tahun menjadi karyawan baru menjadi trader. Ada pula yang setelah pensiun baru menjadi trader. Karena sudah bertahun-tahun, biasaya pola pikir sebagai karyawan tersebut mengendap di alam bawah sadar. Pola pikir tersebut pada akhirnya tanpa sadar terbawa saat trading dan bisa merusak trading Anda.

Pola Pikir Karyawan Yang Merusak Trading

Menjadi trader dan karyawan adalah hal yang berbeda. Bahkan saya bilang perbedaannya bagaikan bumi dan langit. Tanpa sadar, mereka yang berangkat dari dunia karyawan membawa pola pikirnya saat trading. Hal ini berbahaya, karena pola pikir karyawan tidak akan cocok untuk trading.

Berikut adalah beberapa pola pikir karyawan yang bisa merusak trading:

1. Harus bekerja setiap hari
Karyawan harus masuk bekerja setiap hari, dari hari Senin sampai Jumat sesuai jam kantor. Semakin rajin seorang karyawan, artinya semakin dihargai perusahaan. Trader yang berawal dari karyawan seringkali merasa semakin rajin trading berarti semakin besar peluang mendapatkan uang. Ini salah besar. Dalam trading, besarnya uang yang dihasilkan tidak berbanding lurus dengan jumlah trading yang dilakukan. Justru semakin banyak trading (overtrading) biasanya trading lebih banyak rugi. Yang penting bukan kuantitas trading, tapi kualitas trading.

2. Selalu mendapat gaji secara rutin
Menjadi karyawan itu enaknya adalah mendapat gaji setiap bulan, selama belum dipecat. Ada kepastian mendapatkan uang secara periodik. Banyak trader yang berawal dari karyawan begitu ingin mendapatkan uang setiap saat. Ia "mengharuskan" diri supaya profit setiap waktu. Biasanya trader yang ngotot begini malah kebalikannya yang didapat. Malah sering loss. Menjadi trader, Anda harus menyadari bahwa kita tidak mungkin bisa profit setiap saat. Menjadi trader itu ada waktunya tidak mendapatkan uang, malah rugi. Terutama pada trader saham lokal yang cuma bisa profit satu arah. Kalau pasar saham sedang bearish, Anda ngotot trading ingin mendapat profit biasanya malah sering rugi.

3. Berada di zona nyaman
Menjadi karyawan itu artinya berada di zona nyaman setiap saat, selama perusahaan tempat Anda bekerja masih sehat. Sedangkan menjadi trader itu berbeda, kita selalu berada dalam ketidakpastian setiap saat. Pasar selalu berfluktuasi dan sulit ditebak. Orang yang sudah lama menjadi karyawan saat menjadi trader biasanya shock, stres berat sampai mengganggu trading.

4. Bila salah mendapat surat peringatan dulu
Enaknya menjadi karyawan adalah bila salah, Anda mendapat surat peringatan dulu. Perusahaan tidak akan main pecat. Tapi trader kalau salah, langsung potong modal hahaha. Bukan surat peringatan, tapi surat pemberitahuan dari broker kalau modal sudah habis alias margin call. Jadi melakukan kesalahan sebagai trader itu harganya mahal. Kita sendiri yang harus menghukum diri kita sendiri dengan cut loss. Kalau menunggu market yang menghukum, rasakanlah margin call.

5. Tidak bertanggung jawab saat mengambil keputusan
Saat menjadi karyawan, Anda tidak harus bertanggung jawab secara langsung terhadap semua keputusan yang dibuat perusahaan. Kalau omzet perusahaan turun, kita bisa mengatakan bagian marketing yang kurang promosi, atau bagian riset yang produk barunya kurang diminati. Sementara menjadi trader artinya kita bertanggung jawab pada semua keputusan yang kita buat. Jadi kita harus berhati-hati selalu pada keputusan trading kita. Setiap keputusan trading adalah masa depan kita sebagai trader.

6. Puas dengan keterampilan yang dimiliki
Menjadi karyawan sudah jelas job description-nya. Termasuk ketrampilan yang dibutuhkan. Anda tidak wajib memiliki ketrampilan baru diluar deskripsi pekerjaan. Tapi di dunia trading berbeda. Sebagai trader Anda harus menguasai bermacam-macam ketrampilan yang berbeda-beda. Misalnya Analisis Teknikal, manajemen uang, manajemen risiko, psikologi trading. Belum lagi pengetahuan tentang pasar. Pasar selalu berubah, dan dinamis. Di dalam trading 2+2 tidak selalu sama dengan 4. Kalau tidak mau menambah ilmu, kecil kemungkinan Anda sukses sebagai trader.

7. Bekerja keras selalu ada imbalannya
Perusahaan biasanya menghargai karyawan yang bekerja keras. Semakin bekerja dengan keras, semakin mudah naik pangkat dan gaji meningkat pesat. Sedangkan menjadi trader belum tentu. Kita sudah analisis setengah mati, berhari-hari mengamati grafik sampai mata pedes, hasilnya bisa berbeda dengan yang diharapkan, masih saja rugi. Menjadi trader itu bukan jaminan kalau bekerja keras pasti mendapatkan hasil yang besar juga. Banyak trader yang merasa kalau sudah melakukan analisis dengan keras, ia harus mendapatkan profit setimpal dengan yang dilakukan. Artinya ia ngarep tradingnya profit besar, sehingga saat analisisnya salah ia ngotot tetap bertahan dengan analisisnya. Akibatnya bencana. Malah rugi semakin bengkak.

Sekali lagi, menjadi trader itu berbeda seratus delapan puluh derajat dibandingkan dengan menjadi karyawan. Yang sebelumnya menjadi karyawan, semoga memiliki pola pikir yang benar tentang trading dan tidak membawa pola pikir karyawan dalam trading.

oleh
Desmond Wira
http://www.juruscuan.com