Dampak Coronavirus pada Ekonomi Dunia dan Indonesia

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Coronavirus yang menyebar dari Wuhan, China sampai tanggal 19 Februari 2020 telah menginfeksi lebih dari 75.000 orang dan menyebabkan kematian hingga 2.000 jiwa. Sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, China diperkirakan akan mengalami guncangan ekonomi yang singkat namun lebih tajam dari yang diperkirakan. Guncangan ini juga akan memberi dampak di seluruh dunia. Artikel ini akan membahas bagaimana dampak coronavirus (Covid-19) pada ekonomi dunia termasuk Indonesia

Dampak Coronavirus pada Ekonomi Dunia dan Indonesia

DAMPAK CORONAVIRUS PADA EKONOMI CHINA

GDP China di kuartal pertama 2020 diperkirakan anjlok sampai 4% (prediksi dari Peterson Institute for International Economics). Sebelum Coronavirus merebak, GDP China di kisaran 6%. Sedangkan S&P memperkirakan Coronavirus dapat menurunkan GDP China pada kisaran 5% di tahun ini, dimana dampak terbesar pada kuartal pertama, dan rebound di kuartal ketiga.

 

DAMPAK CORONAVIRUS PADA EKONOMI DUNIA

Analis memperkirakan Coronavirus dapat menurunkan 40 sd 50 basis poin dari ekonomi AS (sumber KPMG).

Diperkirakan yang paling banyak terdampak dari Coronavirus pada ekonomi dunia terutama pada industri travel (wisata) karena penerbangan dari dan ke China banyak ditunda / ditolak. Selain itu juga pada industri teknologi dan manufaktur (contohnya disrupsi supply chain pada produk Foxcoon, Apple, dst).

 

DAMPAK CORONAVIRUS PADA EKONOMI INDONESIA

Sebenarnya ekonomi Indonesia sudah terlihat turun di tahun 2019, seperti turunnya ekonomi di negara-negara Asia Tenggara lainnya. GDP Indonesia 2019 di angka 5,02%, terendah dalam 3 tahun terakhir, turun dari 5,17% pada 2018 (sumber Badan Pusat Statistik). Angka ini belum menyertakan dampak Coronavirus, karena baru merebak di Desember 2019.

Penurunan ekonomi China akan berdampak pada beberapa sektor misalnya:

  • Turunnya harga komoditas karena penurunan demand dari China. Selama ini China merupakan salah satu tujuan utama ekspor Indonesia.
  • Melemahnya sektor pariwisata. Tujuan wisata populer seperti Bali akan terkena dampak dari penolakan penerbangan dari dan ke China
  • Disrupsi manufaktur, supply dari pabrik masih banyak diimpor dari China
  • Sektor konsumer, banyak produk masih diimpor dari China. Turunnya impor dari China berpotensi menaikkan inflasi yang pada akhirnya akan dirasakan oleh konsumen Indonesia

Diperkirakan akan ada 0,3% pengurangan dari pertumbuhan GDP Indonesia jika pertumbuhan ekonomi China turun sampai dengan 1%-2% (sumber Kementrian Ekonomi Indonesia)

Penurunan pertumbuhan ekonomi nantinya juga akan terlihat pada pasar saham Indonesia. Dampak Coronavirus pada ekonomi Indonesia baru akan terlihat jelas pada kuartal pertama. Jadi sebagai investor saham disarankan untuk bersiap-siap pada segala kemungkinan. Semoga penyebaran Coronavirus berhasil dicontain.

oleh:
Desmond Wira
http://www.juruscuan.com