User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Belakangan ini di Indonesia banyak diperbincangkan tentang berbagai bisnis startup yang lesu. Ada yang melakukan PHK karyawan. Bahkan ada yang sampai tutup. Saya sendiri tidak kaget sama sekali. Sejak menekuni dunia saham, saya paham bahwa memang hanya sebagian kecil bisnis yang bisa bertahan. Di dunia IT pun ada kutipan 90% Rule yang sering didengungkan, yaitu: "Nine out of ten startups fail." Artinya 90% perusahaan startup berakhir gagal. Benarkah statistik ini?

90% Perusahaan Startup Berakhir Gagal

Kebenaran 90% Rule

Klaim yang menyatakan "90% perusahaan startup berakhir gagal" dapat dipertanggungjawabkan secara statistik. Menurut data Bureau of Labor Statistics (AS) yang rilis tahun 2021 memang 90% perusahaan startup berakhir gagal dalam kurun waktu 10 tahun.

Kegagalan bisnis mengacu pada perusahaan yang berhenti beroperasi karena ketidakmampuannya menghasilkan laba atau menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menutupi pengeluarannya. Bisnis tersebut akhirnya tutup atau diakuisisi oleh perusahaan lain.

Tingkat kegagalan bisnis baru termasuk startup

Riset lain misalnya dari Failory, Startupgenome juga menunjukkan hal yang relatif mirip.

 

New Business

Yang dimaksud New Business adalah semua sektor bisnis, misalnya toko, restoran, barbershop, termasuk startup. Bisnis yang masuk kategori ini tidak harus punya karakteristik seperti startup yang disruptif. Bisnis tradisional juga termasuk di sini. Pada tahun pertama sebanyak 20% bisnis baru berakhir gagal. Pada jangka waktu 5 tahun, sebanyak 45% bisnis baru berakhir gagal. Pada akhirnya 70% bisnis baru berakhir gagal dalam jangka waktu 10 tahun. Hanya 25% bisnis baru yang bertahun sampai 15 tahun berikutnya. Menjadi wirausaha memang tidak mudah. Risikonya sangat tinggi.

 

Startup

Perusahaan yang didefinisikan sebagai rintisan atau startup adalah perusahaan baru yang bersifat inovatif dan berpotensi disruptif. Yang dimaksud disruptif adalah melakukan bisnis dengan cara tidak seperti biasanya. Pada kategori ini, tingkat kegagalan sangat tinggi. Perusahaan startup biasanya mengimplementasikan ide baru, dan belum tentu diterima masyarakat. Sebanyak 90% startup berakhir gagal dalam jangka waktu 10 tahun.

Scale Up

Perusahaan startup yang sudah melewati fase ide dan mendapat pendanaan dari VC (Venture Capital) didefinisikan sebagai scale up. Tingkat kegagalan bisnis di kategori ini masih terbilang tinggi tapi lebih rendah dari startup, yaitu sekitar 75% dari perusahaan scale up berakhir gagal dalam jangka waktu 10 tahun.

Unicorn

Yang menarik adalah di kategori Unicorn, yaitu perusahaan yang memiliki valuasi di atas $1 miliar. Di kategori unicorn yang sukses hanya sekitar 0,006%. Tidak ada satu persen.

 

Perkembangan Startup di Indonesia

Perusahaan startup cukup berkembang di Indonesia. Menurut laporan Startup Ranking (2022). Tercatat, ada 2.347 startup di dalam negeri. Jumlah ini menempatkan Indonesia berada di urutan kelima terbanyak di dunia.

Tingkat kegagalan bisnis baru termasuk startup

Menurut data (2022), di ASEAN, tercatat 70 perusahaan later stage startup dengan status centaur, di mana 38 persen atau sekitar 27 perusahaan berasal dari Indonesia. Centaur adalah startup dengan valuasi di bawah unicorn, berkisar antara USD 100 juta hingga USD 1 miliar. Indonesia juga tercatat sebagai penghasil unicorn terbanyak di ASEAN. 9 dari 15 unicorn di kawasan ASEAN berasal dari Indonesia dengan valuasi sekitar USD 41,6 miliar.

 

Startup di Pasar Saham

Saat ini sudah banyak perusahaan startup yang melantai di bursa saham Indonesia, termasuk dua perusahaan dengan status unicorn yaitu BUKA (PT Bukalapak Com Tbk) dan GOTO (PT Gojek Tokopedia Tbk). Masih banyak lagi perusahaan startup yang sedang mengantri siap debut IPO di pasar saham Indonesia.

Pasar saham biasanya menjadi alternatif terakhir pendanaan bagi perusahaan startup, setelah VC, angel investor, dan sebagainya.

Sebagai investor, kita tentu senang karena ada pilihan perusahaan baru untuk investasi. Tapi masalahnya berinvestasi di perusahaan startup termasuk berisiko tinggi, karena secara statistik perusahaan startup lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. Untuk itu, sebagai investor kita harus jeli melakukan analisis secara mendalam, bila ingin berinvestasi di perusahaan startup.



Semoga artikel ini bermanfaat dan membuat Anda menjadi investor saham yang lebih berhasil