Investor di pasar saham memiliki perilaku yang unik saat menghadapi koreksi di pasar saham. Saat terjadi koreksi obral harga saham, investor malah ikutan panik menjual sahamnya dan tidak berani beli. Berbeda dengan di dunia ritel. Saat terjadi obral promo di marketplace, orang-orang dengan penuh suka cita berburu membeli barang diskon. Kalau perlu pakai pay later. Mengapa perilaku orang di marketplace dan pasar saham berbeda? Simak jawabannya di artikel ini

Psikologi Investor Menghadapi Koreksi Di Pasar Saham

Persepsi Risiko

Orang melihat harga turun di marketplace dan pasar saham secara berbeda.

Harga turun di marketplace dianggap sebagai peluang. Harga turun dari dari awalnya yang sudah tinggi dan tidak mungkin turun lagi. Sehingga ini adalah kesempatan beli dan pembeli merasa beruntung.

Sedangkan harga turun di pasar saham dianggap sebagai ancaman. Harga saham yang turun masih bisa turun lagi. Sehingga walaupun harga sudah terdiskon, investor takut pada ancaman yang lebih besar lagi

Buy the dip meme

 

Ketakutan Adalah Sifat Alamiah Manusia

Ketakutan adalah sifat natural yang dimiliki manusia akibat evolusi berjuta-juta tahun lalu. Kegunaannya adalah untuk survival.

Investor yang sudah siap menunggu datangnya koreksi di pasar saham, saat koreksi beneran datang, tetap saja keder dan kabur.

Insting alamiah sudah dilawan. Contoh saja kalau ada banyak orang panik berlarian, dan kita tidak tahu apa yang terjadi, tetap saja kita akan mengambil jalan aman, yaitu ikutan kabur.

 

Kita Melihat Koreksi Yang Sudah Terjadi Secara Berbeda

Tapi kalau melihat koreksi di pasar saham yang sudah pernah terjadi, kita akan melihatnya secara berbeda. Persepsi kita terhadap risiko berbalik 180 derajat.

Karena sudah terjadi, kita melihat setiap koreksi atau penurunan harga saham di masa lalu sebagai peluang. Tau gitu dulu beli, jual rumah sawah, beli saham, kan bisa cuan buanyak.

Kita melihatnya sebagai peluang, karena sudah tidak ada risikonya. Coba kalau pas terjadi koreksi, belum tentu bisa bilang begitu.

Peluang dan ancaman di pasar saham

 

Peluang Dan Ancaman

Sebenarnya setiap penurunan harga di pasar saham, selalu membawa dua hal, yaitu peluang dan ancaman sekaligus. Tergantung kita "mau" melihat yang mana.

Default otak kita cenderung melihat koreksi harga sebagai ancaman. Tapi kita bisa melatih melihat juga sebagai peluang.

Bagaimana cara melatihnya?

Caranya adalah kita memberi patokan atau batas. Mana yang area ancaman. Mana yang area peluang

Membedakan peluang dan ancaman di pasar saham

Untuk investor sebenarnya cara melatihnya lebih mudah. Investor menggunakan Analisis Fundamental. Mestinya harga saham yang turun, selama fundamental perusahaan tidak berubah bukanlah ancaman. Kita baru perlu waspada kalau ada penurunan harga dibarengi memburuknya kinerja keuangan atau masalah di dalam perusahaan seperti fraud.

Untuk trader bisa menggunakan patokan indikator atau tools Analisis Teknikal. Misalnya selama level support atau indikator belum terkonfirmasi tembus berarti bukan ancaman.

Intinya kita harus memiliki patokan, yaitu berupa sistem investasi untuk investor atau sistem trading untuk trader.

Tanpa patokan, kita hanya akan selalu bingung mau ngapain saat terjadi penurunan harga, gampang panik dan ikut-ikutan dengan pelaku pasar lain.

Saat terjadi koreksi di pasar saham, lihat kembali patokan yang sudah ditetapkan, baru ambil keputusan.

 

Jika berminat ingin belajar kaitan emosi dan investasi bisa membaca lebih lanjut di buku Psikologi Trading

Semoga artikel ini bermanfaat

>> Jangan Lewatkan

Buku belajar investasi dan trading saham, forex, dll

Investor dan trader yang sukses adalah mereka yang selalu belajar dan memperbaiki ketrampilannya
Baca buku investasi dan trading saham, forex dari JurusCUAN. Terbukti mudah dipahami