User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Akhir-akhir ini unit link menjadi sorotan media. Banyak nasabahnya yang kecewa dan ramai-ramai menutupnya. Sebenarnya apa itu unit link? Apa kelebihan dan kekurangan unit link? Mengapa unit link sering dipermasalahkan?

Mengenal Unit Link: Pahami Kelebihan Dan Kekurangannya

Apa Itu Unit Link?

Unit link adalah produk asuransi yang ditambahkan fitur investasi (Produk Asuransi Yang Dikaitkan Investasi atau disingkat PAYDI). Dengan demikian produk keuangan ini menawarkan dua keuntungan sekaligus, yaitu proteksi asuransi dan investasi. Proteksi asuransi berfungsi melindungi nasabah dari kejadian tidak terduga di masa depan. Sedangkan investasi berfungsi menambah nilai aset di masa depan.

Perlu dicatat, unit link sebenarnya adalah produk asuransi, bukan investasi. Fitur investasi di unit link sebenarnya hanyalah pemanis. Awal mula unit link dibuat karena susah menjual produk asuransi murni. Bagi masyarakat awam, membeli polis asuransi sama saja dengan mengeluarkan uang untuk sesuatu yang belum tentu terjadi. Karena itulah muncul unit link, yaitu produk investasi yang diberi "pemanis" investasi. Akibatnya unit link menjadi laris manis. Menurut data di tahun 2020, premi unit link menyumbang 63% dari total premi asuransi.

Karena unit link adalah produk asuransi, maka "core" ketentuannya lebih condong ke asuransi, bukan investasi. Ini yang perlu dipahami oleh calon nasabah.

 

Mengapa Unit Link Sering Diterpa Berita Miring?

Unit link memang sering mendapat terpaan isu miring. Berita terakhir di 2021, jutaan nasabah ramai-ramai menutup unit link.

Jutaan nasabah ramai-ramai menutup unit link

Banyaknya nasabah yang kecewa terhadap unit link, umumnya disebabkan oleh beberapa faktor berikut:

  • Nasabah tidak paham benar tentang unit link. Bahkan banyak orang yang menganggap unit link adalah "tabungan", yang di akhir periode nanti akan bisa diambil penuh dan nilainya pasti meningkat. Mereka tidak menyadari bahwa aspek investasi di unit link dapat menyebabkan nilai aset menjadi turun tajam. Saat pasar finansial turun, biasanya kinerja investasi di unit link juga jeblok. Ini yang sering menyebabkan nasabah merasa "ditipu" unit link.
  • Sales atau marketing unit link tidak menyampaikan hal yang benar tentang unit link. Banyak sales unit link hanya menonjolkan sisi investasi dengan simulasi yang muluk-muluk. Tidak menjelaskan risikonya dengan benar. Selain itu banyak juga sales yang berani menjanjikan investasi di unit link pasti naik. Nasabah yang diiming-imingi seperti ini tentu saja salah tangkap tentang unit link.

Kedua faktor di atas sebenarnya saling terkait. Yang pasti kekecewaan nasabah terhadap unit link adalah karena realitas yang tidak sesuai dengan harapan.

 

Kelebihan Unit Link

  • Praktis, bisa sekalian membeli asuransi sekaligus berinvestasi. Biasanya cocok untuk orang yang tidak mau repot.
  • Nasabah dipaksa untuk disiplin karena "terpaksa" menyetor dana premi secara periodik. Jika tidak dibayar, bisa kena denda. Semakin terlambat bisa jadi akan kehilangan fasilitas proteksi. Artinya dalam jangka panjang tetap rutin berinvestasi.

 

Kekurangan Unit Link

  • Unit link sebenarnya adalah produk nanggung. Dana yang disetor nasabah dibagi dua, menjadi premi asuransi dan sebagian dialokasikan untuk investasi. Untuk asuransi, fitur yang diberikan nanggung. Untuk investasi hasilnya juga akan nanggung.
  • Terlalu banyak biaya, mulai dari biaya administrasi (biasanya tahunan), biaya alokasi premi (biasanya untuk setiap setoran dana), biaya pengelolaan investasi. Secara total biaya, jauh lebih besar dari produk investasi murni
  • Nasabah tidak bisa tahu kemana dana diinvestasikan. Paling cuma tahu ke pasar saham, pasar uang atau obligasi, tetapi secara lebih detil tidak tahu. Jadinya seperti membeli kucing dalam karung, cuma terima nasib saja untuk hasil investasinya.
  • Potensi imbal hasil investasi cenderung kecil, karena hanya sebagian dana yang diinvestasi dan proses investasi baru dilakukan setelah tahun ke sekian (biasanya tahun ke 3 sampai 5). Padahal prinsip utama investasi adalah jangan menunda investasi. Jika ditunda, hasilnya tidak akan maksimal.

Di bawah ini adalah contoh simulasi jika melakukan investasi di tahun ke 1. Misalkan setiap tahun investasi Rp 10 juta, dengan asumsi imbal hasil 15% per tahun. Mulai di usia 30 tahun, sampai umur 55 tahun hasil investasi menjadi Rp 2,44 miliar.

Simulasi investasi mulai tahun ke 1

 

Sedangkan berikut adalah simulasi jika menunda melakukan investasi dan baru mulai di tahun ke 5. Misalkan setiap tahun investasi Rp 10 juta, dengan asumsi imbal hasil 15% per tahun. Mulai di usia 30 tahun, sampai umur 55 tahun hasil investasi menjadi hanya Rp 1,36 miliar.

Simulasi investasi yang ditunda, baru mulai tahun ke 5

Perhatikan bahwa hanya dengan menunda investasi selama 5 tahun, maka hasil investasi yang didapatkan sangat jauh berkurang. Untuk itu jangan harap berharap banyak pada hasil investasi unit link karena faktor penundaan ini.

 

Perlukah membeli unit link?

Ini adalah pertanyaan yang sering diajukan. Sebaiknya membeli unit link atau tidak?

Jika Anda termasuk orang yang mau praktis, tidak mau repot dan tidak masalah dengan imbal hasil investasi yang cenderung lebih rendah, mungkin Anda cocok dengan unit link.

Tapi jika Anda mengharapkan fitur asuransi dan hasil investasi yang lebih optimal, saya menyarankan jauhi unit link. Jika mau repot sedikit, Anda berpotensi mendapatkan hasil yang lebih baik. Lebih disarankan untuk membeli produk asuransi murni dan investasi murni secara terpisah.

Untuk produk investasi murni, ada banyak pilihan untuk berinvestasi.

Bagi yang ingin berinvestasi di saham, kebetulan saya juga tidak menyarankan investasi di Reksa Dana Saham. Anda bisa mencoba langsung berinvestasi saham sendiri. Anda bisa belajar investasi saham sendiri dan mulai membuka rekening saham di sini.

Semoga artikel ini bermanfaat